Tari Tradisional di Tengah Tren Digital, Masih Menarik bagi Siswa SMP

Keterangan Sumber Foto: 
dokumentasi pribadi

Kalasan—Perkembangan media sosial membuat berbagai jenis dance semakin mudah ditemukan oleh siswa. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang diamati oleh Ananda Shabilla Nur Fathikah saat melaksanakan Praktik Kependidikan (PK) di SMP Negeri 3 Kalasan. Pada 17 September 2026, ia melakukan wawancara sederhana dengan beberapa siswa kelas VII A dan VII D untuk mengetahui tari yang mereka kenal, sumber mereka mengenalnya, serta pandangan mereka terhadap tari tradisional di tengah tren dance di media sosial. Dari wawancara tersebut, siswa kelas VII D menyebut Srimpi, Bedhaya, Golek Ayun-Ayun, Caping Ayu, Angguk, dan Merak, sedangkan siswa kelas VII A menyebut Jathilan, Saman, Srimpi, Jaipong, dan Bedhaya. Tari Badui juga banyak disebutkan karena sedang menjadi materi praktik dalam pembelajaran Seni Budaya di sekolah.

Cara siswa mengenal tari tradisional cukup beragam. Salah satu siswa kelas VII A mengenal Jathilan dari pertunjukan di desanya, sementara siswa lainnya mengenal tari melalui YouTube dan Google. Salah satu siswa juga pernah melihat pertunjukan tari secara langsung di keraton. Di sisi lain, ketika ditanya mengenai tarian yang lebih sering mereka lihat di media sosial, dance TikTok menjadi jawaban yang muncul. Dance yang sedang trending dan sering muncul di FYP membuat jenis tarian tersebut lebih mudah dikenal. Salah satu siswa menjelaskan bahwa konten yang dilihat dan disukai akan membuat video dengan jenis serupa kembali muncul di beranda, sedangkan siswa lainnya menyebut dance tersebut lebih sering dilihat karena sedang trending.

Meskipun lebih sering melihat dance dari media sosial, siswa yang diwawancarai tetap menganggap tari tradisional menarik. Salah satu siswa kelas VII D mengatakan bahwa tari tradisional masih menarik karena perlu dilestarikan dan tidak terlalu sering dilihat, sehingga ketika melihatnya justru menjadi sesuatu yang baru. Pendapat serupa muncul dari siswa kelas VII A yang menganggap kegiatan menari sebagai sesuatu yang seru. Bagi siswa, daya tarik tarian juga berkaitan dengan unsur di dalamnya. Siswa kelas VII D menyebut kombinasi musik, gerakan yang menarik, dan kostum, termasuk perpaduan unsur tersebut dalam tari kreasi baru. Sementara itu, siswa kelas VII A lebih tertarik pada gerakan yang unik, bervariasi, sulit, dan menantang karena membuat mereka ingin mencoba serta mempelajarinya.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa dance yang populer di media sosial memang lebih sering ditemui siswa, tetapi tari tradisional masih memiliki tempat dan tetap dapat menarik perhatian mereka. Pembelajaran Seni Budaya menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk mengenal tari secara langsung melalui pengetahuan dan kegiatan praktik. Media digital juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengenalan tari tradisional melalui video tari, dokumentasi pertunjukan, maupun konten kreatif. Hal tersebut berkaitan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena pendidikan juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal dan menghargai budaya. Tantangannya adalah bagaimana tari tradisional dapat terus dikenalkan dengan cara yang dekat dengan kehidupan siswa. Sekolah dan media digital dapat menjadi dua ruang yang saling melengkapi agar tari tradisional tetap dikenal dan dipelajari oleh generasi muda.

Penulis: Ananda Shabilla Nur Fathikah